Oleh Collin Groves* dan Anton Nurcahyo**
KOMPAS.com - Kami telah menemukan spesies gres orangutan, spesies ketiga yang diketahui dan simpanse besar gres yang pertama dideskripsikan semenjak bonobo hampir seabad lalu.
Spesies gres ini, disebut orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), memiliki tengkorak yang lebih kecil dibandingkan orang utan Borneo dan Sumatera, tapi memiliki taring yang lebih besar.
Ketika kami dan kolega kami melaporkan dalam jurnal Current Biology, spesies gres ini diwakili oleh populasi terisolasi kurang dari 800 orang utan yang hidup di Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia.
Keberadaan sekelompok orangutan di kawasan ini pertama kali dilaporkan pada 1939. Namun orangutan Batang Toru belum ditemukan sampai 1997, dan kemudian dikonfirmasi pada 2003. Kami mulai meneliti lebih lanjut untuk melihat apakah kelompok orang utan yang terisolasi ini benar-benar suatu spesies unik.
Atas dasar bukti genetik, kami telah menyimpulkan bahwa mereka memang berbeda dari dua spesies orang utan yang sudah diketahui sebelumnya: Pongo abelii (orang utan Sumatra) dari utara lebih jauh di Sumatra, dan Pongo pygmaeus (orang utan Borneo) dari Borneo.
Orangutan Batang Toru memiliki campuran ciri khas yang aneh. Pejantan cukup umur memiliki alas pipi yang mirip orangutan Borneo, tapi perawakan mereka yang langsing lebih seakan-akan dengan orangutan Sumatra.
Warna rambut mereka lebih cokelat muda dibandingkan spesies Borneo, dan populasi Batang Toru juga membuat teriakan yang lebih panjang dibandingkan orang utan lainnya.
Memastikan
Untuk memastikan sepenuhnya, kami membutuhkan perbandingan yang lebih akurat mengenai dimensi badan mereka, atau “morfologi”.
Baru pada 2013 kerangka pejantan cukup umur tersedia, tapi semenjak itu salah satu dari kami (Anton) telah menghimpun sekitar 500 tengkorak dari dua spesies lainnya, dikumpulkan dari 21 institusi, demi menerima perbandingan yang akurat.
Analisis harus dilakukan pada tahap perkembangan yang sama pada tengkorak orangutan dewasa, sebab mereka terus tumbuh bahkan setelah dewasa.
Anton menemukan 33 tengkorak pejantan liar yang cocok untuk perbandingan. Dari 39 karakteristik penilaian berbeda untuk tengkorak Batang Toru, 24 di antaranya berada di luar rentang tipikal orangutan Sumatera Utara dan Borneo.
Secara keseluruhan, pejantan Batang Toru memiliki tengkorak lebih kecil, tapi taring yang lebih besar. Dengan menggabungkan sumber bukti genetik, vokal, dan morfologi, kami dengan percaya diri menyimpulkan bahwa populasi orangutan Batang Toru yakni spesies yang gres ditemukan dan yang masa depannya sudah berada dalam ancaman.
Meski eksploitasi berat di kawasan sekitar (perburuan, perubahan habitat, dan acara ilegal lainnya), komunitas di sekitar habitat orangutan Tapanuli masih memberi kami kesempatan untuk melihat dan mendata populasi yang masih hidup. Sayangnya, kami yakin bahwa populasinya kurang dari 800 individu.
Dari habitatnya sendiri, tersisa tidak lebih dari 10 kilometer persegi. Pengembangan di masa depan telah direncanakan untuk area tersebut, dan sekitar 15 persen habitat orang utan memiliki status hutan yang tidak dilindungi.
Penemuan orangutan ketiga pada kala ke-21 menawarkan kita sebuah pemahaman bahwa simpanse besar memiliki keberagaman lebih banyak daripada yang kita ketahui, membuatnya lebih penting lagi untuk melestarikan aneka macam kelompok ini.
Tanpa sumbangan berpengaruh dan partisipasi dari komunitas di sekitar habitatnya, masa depan orangutan Tapanuli akan menjadi tidak pasti. Pemerintah, peneliti, dan institusi konservasi harus membuat usaha kolaboratif yang berpengaruh untuk memastikan bahwa orangutan ketiga ini mampu bertahan lama setelah ditemukan.
*Profesor bioantropologi di Australia National University
** Australia National University
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation Indonesia
Sumber today.line.me
0 Response to "Cerita Kami Menemukan Orangutan Tapanuli, Jenis Baru dan Terlangka"
Posting Komentar